DOHA,EKOIN.CO – Jurnalis Qatar, Abdullah Al-Amadi, memantik diskusi luas setelah menulis kolom di harian pemerintah Al-Sharq edisi 24 Juli 2025. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa kemenangan para pejuang jihad di Gaza akan menjadi titik balik besar yang menandai berakhirnya “era Zionis.”
Gabung WA Channel EKOIN.CO di sini
Al-Amadi mengaitkan konflik Gaza dengan sejarah panjang peradaban Islam. Menurutnya, serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 merupakan “buah dari pelajaran sejarah Islam” dan tidak dapat diselesaikan lewat jalur negosiasi yang ia anggap tidak efektif.
“Janganlah berkecil hati dengan pemandangan kehancuran, keruntuhan, dan pembunuhan di Gaza. Meskipun nyawa umat Islam berharga dan penting di setiap waktu dan tempat, perubahan sejarah besar semacam ini membutuhkan korban, darah, dan syahid,” tulis Al-Amadi sebagaimana dikutip MEMRI, Rabu (27/8/2025).
Gaza Dibandingkan dengan Jatuhnya Baghdad
Dalam tulisannya, Al-Amadi membandingkan kondisi Gaza dengan tragedi jatuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol pada tahun 1258 M. Ia menyebut, kehancuran yang kini menimpa Gaza bisa dilihat sebagai fase sejarah yang akan membuka babak baru dalam perjalanan dunia Islam.
Lebih jauh, ia menyinggung Pertempuran Ain Jalut pada 1260 M di Galilea. Pertempuran tersebut tercatat berhasil menghentikan laju bangsa Mongol sekaligus menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam.
“Sebagaimana hancurnya kekuatan bangsa Mongol dalam Pertempuran Ain Jalut menandai berakhirnya pasukan kejahatan dan kehancuran mereka, apa yang terjadi di Gaza hari ini, dengan pertolongan Allah, akan menjadi awal dari berakhirnya era Zionis,” tulisnya lagi.
Resonansi Regional dan Internasional
Pernyataan Al-Amadi memicu tanggapan beragam, baik di dunia Arab maupun komunitas internasional. Sebagian menilai pernyataan tersebut sebagai refleksi perlawanan panjang Palestina, sementara pihak lain menganggapnya sebagai seruan ideologis yang berpotensi memperuncing konflik.
Artikel yang dimuat dalam surat kabar resmi Qatar itu dinilai tidak sekadar opini personal, melainkan memiliki bobot politik tertentu karena keterkaitan dengan media milik pemerintah. Hal ini membuat isi tulisannya diperhatikan secara serius oleh pengamat kawasan Timur Tengah.
Kesimpulan:
Pernyataan Abdullah Al-Amadi menunjukkan bagaimana konflik Gaza tidak hanya dipandang sebagai isu politik, tetapi juga sebagai bagian dari narasi sejarah Islam yang panjang.
Perlu ruang dialog internasional yang lebih seimbang agar perdebatan tentang Gaza tidak hanya terjebak pada retorika sejarah, melainkan juga menghasilkan langkah nyata menuju penyelesaian yang adil dan berkelanjutan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v