Jakarta EKOIN.CO – Kekhawatiran wisatawan terhadap keberadaan kamera tersembunyi di tempat menginap seperti hotel, hostel, dan layanan sewa seperti Airbnb semakin meluas. Hal ini mencuat setelah hasil survei dari perusahaan keamanan rumah pintar asal Amerika Serikat, Vivint, menunjukkan bahwa tiga dari empat pelancong kini secara aktif memeriksa keberadaan kamera tersembunyi saat pertama kali masuk ke penginapan mereka.
Tren ini mencerminkan perubahan besar dalam perilaku wisatawan. Jika sebelumnya pelancong hanya fokus mengecek kenyamanan kamar dan ketersediaan fasilitas seperti handuk atau air minum, kini perhatian mereka telah beralih ke aspek privasi dan keamanan.
Vivint dalam surveinya mengungkap bahwa ketakutan terhadap pelanggaran privasi menjadi alasan utama di balik meningkatnya kepedulian wisatawan. Temuan ini diperkuat dengan maraknya laporan penemuan kamera tersembunyi dari berbagai belahan dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Kasus-kasus tersebut terjadi di berbagai jenis akomodasi, mulai dari hostel di Sydney, penginapan di Cape Cod, hingga ribuan properti sewa harian lainnya. Menurut laporan, lebih dari 35.000 unit Airbnb dilaporkan pernah ditemukan menyimpan kamera tersembunyi oleh penyewa.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran global akan lemahnya pengawasan terhadap praktik penggunaan kamera di properti sewaan. Banyak wisatawan merasa tidak nyaman dan cemas, terutama ketika mereka berada di tempat asing dan berharap bisa beristirahat dengan tenang.
Survei dan Temuan Meningkatkan Kewaspadaan Wisatawan
Salah satu pemicu utama kewaspadaan ini adalah kemajuan teknologi kamera mini yang semakin mudah disembunyikan. Kamera tersembunyi saat ini bisa disamarkan dalam benda sehari-hari seperti detektor asap, colokan listrik, hingga hiasan dinding.
Vivint menyarankan agar wisatawan melakukan langkah pengecekan mandiri saat tiba di penginapan. Beberapa metode sederhana seperti mematikan lampu untuk mengecek lampu merah kecil pada kamera, atau menggunakan senter ponsel untuk melihat pantulan lensa, bisa menjadi solusi awal.
Selain itu, memindai jaringan Wi-Fi lokal menggunakan aplikasi pemindai perangkat juga dapat membantu mengidentifikasi keberadaan kamera tersembunyi yang terhubung ke jaringan internet.
Langkah lainnya adalah memeriksa secara teliti benda-benda yang mencurigakan, terutama yang menghadap langsung ke tempat tidur atau kamar mandi. Bila menemukan sesuatu yang mencurigakan, disarankan untuk segera menghubungi manajemen penginapan dan aparat berwenang setempat.
Tips Menghindari Kamera Tersembunyi
Vivint juga membagikan beberapa kiat tambahan bagi wisatawan. Salah satunya adalah membawa penutup kamera atau plester untuk menutupi lubang-lubang kecil pada benda mencurigakan yang menghadap ke arah privat.
Selain itu, menginap di hotel-hotel berlisensi resmi dan terpercaya dapat mengurangi risiko. Wisatawan juga diimbau membaca ulasan dari tamu sebelumnya untuk mengetahui jika ada keluhan terkait keamanan dan privasi.
Pelaporan kepada pihak berwenang menjadi langkah penting jika ditemukan kamera tersembunyi, agar tindakan hukum bisa dilakukan terhadap pihak yang memasangnya tanpa izin.
Saat ini, di banyak negara, penggunaan kamera tersembunyi tanpa persetujuan di tempat privat merupakan pelanggaran hukum yang serius. Beberapa negara bahkan memberikan sanksi pidana bagi pelaku yang melanggar privasi orang lain di ruang penginapan.
Masalah ini pun menjadi perhatian sejumlah penyedia layanan penginapan daring, seperti Airbnb. Mereka kini memperketat aturan dan meminta semua pemilik properti untuk secara transparan mencantumkan keberadaan kamera—jika ada—serta lokasinya.
Airbnb menegaskan bahwa kamera tidak diperbolehkan berada di area privat seperti kamar tidur atau kamar mandi. Jika melanggar, akun pemilik properti dapat ditangguhkan atau dihapus secara permanen dari platform.
Kesadaran wisatawan akan pentingnya privasi menjadi pendorong utama perubahan dalam industri perhotelan dan sewa harian. Kebutuhan untuk merasa aman di ruang pribadi menjadi standar baru dalam memilih tempat menginap.
Fenomena ini sekaligus membuka diskusi luas tentang hak-hak privasi di era digital, di mana alat pengawasan semakin murah dan mudah diakses siapa saja. Penguatan regulasi serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah strategis ke depan.
Berkembangnya teknologi membuat tindakan preventif harus turut berkembang. Edukasi kepada pelancong untuk aktif melindungi privasinya kini menjadi keharusan.
Langkah mitigasi dari sisi teknologi juga terus dikembangkan. Beberapa perusahaan bahkan telah menciptakan aplikasi pendeteksi kamera tersembunyi yang bisa diunduh gratis di perangkat pintar.
Keamanan dan kenyamanan saat berlibur seharusnya menjadi prioritas utama setiap individu. Karena itu, tindakan pencegahan menjadi kunci dalam menghadapi risiko tersembunyinya alat pengintai di akomodasi wisata.
Dengan meningkatnya perhatian global terhadap isu ini, para pelaku industri penginapan diharapkan lebih terbuka dan bertanggung jawab. Pemerintah setempat juga memiliki peran penting dalam pengawasan dan penegakan hukum.
Wisatawan juga disarankan untuk menyimpan dokumentasi saat pertama kali menemukan kamera, seperti memotret atau merekam video sebagai bukti pendukung laporan.
Kejadian yang menimpa para wisatawan ini menjadi pengingat bahwa keamanan digital kini menjadi bagian penting dalam pengalaman perjalanan modern.
, wisatawan perlu menyiapkan diri secara lebih proaktif terhadap ancaman privasi di penginapan. Membawa perlengkapan sederhana seperti senter kecil, aplikasi pemindai, serta tetap waspada sejak awal menginap dapat mencegah risiko lebih besar.
Kemudian, membaca dan mencermati ulasan penginapan dari tamu sebelumnya bisa menjadi petunjuk awal untuk mengetahui potensi risiko. Biasanya, tamu yang pernah mengalami masalah privasi akan memberikan peringatan secara terbuka di kolom ulasan.
Dalam kesimpulannya, meningkatnya perhatian publik terhadap kamera tersembunyi menandakan pentingnya rasa aman dan nyaman dalam setiap perjalanan. Tidak hanya pemilik penginapan, wisatawan pun memiliki tanggung jawab untuk menjaga keamanan dirinya.
Kedepannya, kolaborasi antara wisatawan, penyedia layanan, dan penegak hukum perlu diperkuat agar praktik penggunaan kamera tersembunyi bisa ditekan. Dunia pariwisata harus menjadi tempat yang ramah, bebas dari rasa khawatir.
Perubahan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi penggunaannya harus sejalan dengan nilai-nilai etika dan hukum. Melindungi privasi bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban semua pihak dalam ruang publik dan privat.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v