Jakarta, EKOIN.CO – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan pembelian 55 unit pesawat Boeing dari Amerika Serikat sebagai bagian dari rencana besar untuk membangkitkan kembali kejayaan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 16 Juli 2025, menyusul kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS yang diumumkan sebelumnya.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Presiden Prabowo menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar pembelian armada, melainkan bagian dari strategi nasional dalam memperkuat maskapai kebanggaan Indonesia. Ia menyebut Garuda sebagai lambang perjuangan dan identitas bangsa. “Garuda adalah flag carrier nasional. Garuda lahir dalam perang kemerdekaan kita. Jadi, Garuda harus menjadi lambang Indonesia,” tegasnya.
Menurut Prabowo, modernisasi armada merupakan kebutuhan mutlak untuk menghadapi persaingan industri penerbangan yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, pembelian pesawat dari Boeing dinilai tepat, seiring kebutuhan akan armada baru yang lebih efisien dan berteknologi modern.
Ia juga menambahkan bahwa keputusan ini merupakan hasil kompromi dagang antara dua negara yang saling membutuhkan. “Kita butuh pesawat-pesawat baru. Dan saya kira enggak ada masalah karena kita butuh, mereka ingin jual pesawat juga. Cukup bagus. Kita juga tetap dari Airbus ya,” ujar Prabowo.
Bagian dari Kesepakatan Perdagangan Indonesia-AS
Langkah strategis ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diumumkan sebelumnya. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia setuju untuk membuka akses penuh bagi produk-produk AS, termasuk sektor energi, pertanian, dan manufaktur.
Kesepakatan ini mencakup pembelian energi senilai US$15 miliar, produk pertanian sebesar US$4,5 miliar, dan pesawat Boeing, termasuk varian Boeing 777. Sebagai imbalannya, AS akan mengenakan tarif 19% terhadap ekspor Indonesia ke negaranya, mulai berlaku pada 1 Agustus 2025.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa perjanjian dagang ini merupakan hasil dari pencarian titik temu antara kebutuhan masing-masing negara. “Kita masih impor BBM, kita masih impor gas, kita masih perlu impor gandum, kedelai, dan sebagainya. Jadi akhirnya kita bisa dapat suatu titik pertemuan,” ungkapnya.
Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah signifikan dalam mempererat hubungan ekonomi bilateral. Menurut Prabowo, pembelian Boeing juga menunjukkan bahwa Indonesia terbuka terhadap kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan, tanpa menutup opsi dari mitra dagang lainnya seperti Airbus.
Respon Amerika Serikat dan Implikasi Ekonomi
Presiden AS Donald Trump menyambut baik perjanjian ini dan menyebutnya sebagai terobosan besar dalam hubungan dagang kedua negara. Dalam unggahannya di platform Truth Social pada 8 Juli 2025, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut membuka akses penuh bagi produk pertanian, perikanan, dan manufaktur AS ke Indonesia.
Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bentuk kemenangan dagang bagi kedua belah pihak, dan menjadi langkah awal menuju hubungan ekonomi yang lebih terbuka dan berimbang. Ia menyebut Indonesia sebagai mitra strategis dalam kawasan Asia Tenggara.
Keputusan untuk membeli pesawat Boeing juga berdampak terhadap industri aviasi domestik. Penguatan armada Garuda Indonesia diharapkan bisa meningkatkan daya saing maskapai di rute domestik dan internasional, serta mendukung konektivitas nasional yang lebih baik.
Meski demikian, pemerintah Indonesia belum merinci kapan pesawat-pesawat tersebut akan mulai dikirimkan dan digunakan oleh Garuda. Rincian teknis terkait model pesawat, kapasitas, serta jadwal pengiriman masih menunggu pembahasan lebih lanjut dengan Boeing dan pihak-pihak terkait.
Di sisi lain, pembelian pesawat dalam jumlah besar ini juga akan membutuhkan dukungan infrastruktur, pelatihan awak, serta biaya operasional yang tidak kecil. Pemerintah menyatakan komitmennya untuk menyiapkan segala aspek pendukung guna memastikan transisi armada berjalan lancar.
Sementara itu, publik dan pelaku industri penerbangan di dalam negeri menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak investasi ini terhadap keuangan Garuda yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa strategi pemerintah ini bisa menjadi awal pemulihan Garuda Indonesia, asalkan manajemen maskapai mampu mengelola dengan baik armada baru tersebut dan meningkatkan efisiensi operasional.
Meski menimbulkan berbagai tanggapan, sebagian kalangan menilai kebijakan ini sebagai langkah progresif yang berani, mengingat kondisi pasar aviasi global yang terus berkembang pasca-pandemi.
Langkah ini juga menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspek politik, tetapi juga ekonomi dan infrastruktur transportasi nasional. Terlebih, sektor aviasi dianggap strategis untuk mendorong pariwisata dan perdagangan domestik.
Seiring proses implementasi kesepakatan ini, semua pihak berharap agar Garuda Indonesia dapat kembali berjaya di kancah internasional dan membawa nama Indonesia terbang lebih tinggi.
Pihak Boeing sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pembelian ini. Namun berdasarkan informasi dari sumber internal, perusahaan menyambut baik keputusan Indonesia dan siap mendukung pengadaan pesawat sesuai kebutuhan pemerintah.
Sejumlah pengamat perdagangan internasional menilai bahwa pendekatan dagang Indonesia dengan AS menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi. Pembelian pesawat menjadi simbolisasi konkret dari niat Indonesia untuk menjaga hubungan baik dengan AS.
Kendati demikian, sejumlah pihak juga mengingatkan agar pembelian pesawat ini tidak membebani fiskal negara atau mengganggu stabilitas neraca pembayaran, terutama dalam konteks ketergantungan pada dolar AS.
keputusan pemerintah untuk mengakuisisi 55 pesawat Boeing dipandang sebagai upaya memperkuat diplomasi dagang serta memulihkan sektor aviasi yang sempat lesu akibat krisis global.
Dalam konteks ini, peran Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional menjadi sangat penting. Oleh karena itu, strategi pengelolaan armada dan keuangan Garuda akan menentukan keberhasilan program ini ke depan.
Indonesia perlu memastikan bahwa investasi besar ini benar-benar memberikan nilai tambah dan tidak sekadar menjadi beban keuangan. Pengawasan publik dan transparansi anggaran akan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Kesuksesan modernisasi armada akan bergantung pada sinkronisasi antara kebijakan pemerintah, manajemen Garuda, serta dukungan swasta dan masyarakat. Komitmen jangka panjang dan kebijakan berkelanjutan juga menjadi elemen krusial.
Pemerintah diharapkan melakukan evaluasi berkala terhadap dampak dari kesepakatan ini, terutama dalam hal ketahanan ekonomi, hubungan dagang, dan kepentingan nasional di masa depan. (*)