Jakarta, EKOIN.CO – Perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia yang kini gemar mengonsumsi kopi mendorong peningkatan produksi kopi berkualitas dan aman dikonsumsi. Merespons tren tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng industri perkopian nasional untuk melakukan riset bersama.
Riset ini melibatkan Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN dan PT Kirana Tata Nagari. Tujuannya adalah menghasilkan biji kopi siap konsumsi yang bebas cemaran jamur dan mikotoksin berbahaya.
Titiek Farianti Djaafar, periset PRTPP BRIN, menyampaikan bahwa dalam surveinya ditemukan keberadaan jamur Aspergillus sp. pada biji kopi. Jamur ini berpotensi memproduksi mikotoksin berbahaya bernama Okratoksin A.
“Jamur tersebut telah diketahui mampu memproduksi mikotoksin yaitu Okratoksin A yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Cemaran jamur ini ditemui pada saat proses pengolahan kopi, yaitu saat fermentasi hingga pengeringan,” ujar Titiek dalam Webinar NgajiTekProP Seri #21, Selasa (15/7).
Menurutnya, pencegahan dapat dilakukan secara biologis menggunakan mikrobia lokal. Ia menjelaskan bahwa metode ini terbukti menghambat pertumbuhan jamur penyebab mikotoksin pada produk pangan lainnya.
Mikrobia Lokal Jadi Solusi Inovatif
“Pencegahan secara biologis dilakukan dengan memanfaatkan mikrobia lokal seperti bakteri asam laktat, bakteri asam asetat, dan yeast yang telah diteliti mampu menghambat pertumbuhan jamur penghasil mikotoksin,” jelas Titiek.
Ia menambahkan, pengujian terhadap efektivitas mikrobia tersebut sebelumnya telah berhasil dilakukan pada komoditas kakao. Kini metode yang sama tengah diuji pada kopi.
Tim BRIN menggunakan isolat bakteri lokal hasil penelitian mereka. Penambahan bakteri ini dalam fermentasi kakao berhasil menekan pertumbuhan Aspergillus niger YAC-9 dan sintesis Okratoksin A.
Keberhasilan riset tersebut diharapkan dapat diterapkan secara luas dalam industri kopi Indonesia. Titiek menyebut bahwa pendekatan biologis ini lebih aman dan ramah lingkungan dibanding penggunaan bahan kimia.
Pada kesempatan yang sama, pihak industri turut menyampaikan komitmennya terhadap riset bersama ini sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan keamanan pangan nasional.
Peran Industri dan Kolaborasi Riset
Noverian Aditya, Pendiri PT Kirana Tata Nagari, menegaskan pentingnya sinergi antara petani, industri, dan lembaga riset. Kolaborasi ini dibangun untuk menciptakan kopi yang tidak hanya lezat, tapi juga aman dikonsumsi.
“Industri berperan dalam memperbesar skala bisnis petani melalui capacity building, pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan warga. Sedangkan lembaga riset berperan dalam menjaga kualitas dan membuat standar proses kopi yang baik dan benar,” ujar Noverian.
Menurutnya, sinergi tersebut akan mendorong efisiensi dalam produksi serta menjaga keberlanjutan ekosistem kopi nasional.
Sementara itu, dari sisi akademisi, pendekatan teknologi dan desain produk juga menjadi perhatian. Guru Besar FTP UGM, Mirwan Ushada, memaparkan pendekatan kansei engineering dalam pengembangan produk pangan.
Ia menyampaikan bahwa faktor manusia sangat memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk, terutama pada aspek visual dan sensori.
Strategi Pengembangan Produk Kopi Nasional
“Dalam pengembangan produk pangan khususnya desain produk dipengaruhi oleh faktor manusia dan parameter produk. Faktor manusia pada saat mengambil keputusan dipengaruhi oleh logika, sensori, dan perasaan,” tegas Mirwan.
Ia menambahkan bahwa visualisasi dan kandungan produk menjadi faktor penting dalam menciptakan nilai tambah kopi Indonesia. Pendekatan ini dapat meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu dari empat produsen kopi terbesar dunia. Pada 2024, kontribusi Indonesia terhadap produksi kopi dunia mencapai sekitar 654 ribu ton atau 6,2 persen.
Terdapat 12 jenis kopi Indonesia yang telah memiliki sertifikasi indikasi geografis. Di antaranya adalah Arabika Gayo, Robusta Lampung, dan Java Arabika Sindoro-Sumbing.
Upaya kolaboratif antara BRIN dan industri ini diharapkan memperkuat posisi kopi Indonesia di kancah global, dengan menjaga kualitas serta keamanan produk hingga ke tangan konsumen.
Kolaborasi antara BRIN dan PT Kirana Tata Nagari menjadi tonggak penting dalam pengembangan kopi Indonesia. Riset ini tak hanya fokus pada cita rasa, namun juga menjawab tantangan keamanan pangan yang selama ini kurang mendapat perhatian serius.
Pemanfaatan mikrobia lokal untuk mencegah cemaran jamur pembentuk mikotoksin membuka peluang baru dalam pengolahan kopi ramah lingkungan. Inovasi ini dapat menjadi standar baru dalam proses fermentasi dan pengeringan biji kopi nasional.
Jika berhasil diterapkan secara luas, pendekatan ini akan menguntungkan banyak pihak: petani lebih terlindungi, industri lebih efisien, dan konsumen mendapatkan kopi yang aman dan berkualitas tinggi.(*)