Jakarta EKOIN.CO – Ratusan massa beratribut ojek online (ojol) menggelar aksi di depan Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam, sebagai bentuk protes atas insiden kendaraan taktis (rantis) yang melindas rekan mereka hingga tewas. Kericuhan pecah saat massa mulai melempari markas dengan botol dan kayu, hingga berujung pembakaran delapan mobil berpelat sipil. Gabung WA Channel EKOIN.
Massa Ojol Melampiaskan Amarah dengan Kekerasan
Sekitar pukul 23.42 WIB, sebagian besar massa ojol membubarkan diri setelah melakukan aksi. Namun, sejumlah orang tanpa atribut ojol tetap bertahan dan mulai melempari Mako Brimob dengan botol dan kayu. Situasi semakin panas saat aparat Brimob mencoba menghalau kerumunan dengan gas air mata.
Bentrok kian memanas karena tembakan gas air mata dibalas oleh massa dengan menyalakan serta melemparkan kembang api ke arah petugas. Kejadian tersebut menambah ketegangan yang terjadi di sekitar markas.
Selain kerusuhan, massa juga melakukan aksi pembakaran terhadap delapan unit mobil yang terparkir di kawasan markas. Kendaraan tersebut merupakan mobil berpelat sipil yang berada di area sekitar saat kericuhan berlangsung.
Dialog Gagal Redakan Kericuhan
Sebelum kerusuhan pecah, perwakilan ojol sempat berdialog dengan pihak Brimob. Dalam pertemuan itu, Brimob berjanji akan mengusut tuntas insiden rantis yang menewaskan salah satu pengemudi ojol. Namun, janji tersebut gagal meredakan emosi massa yang sudah memanas.
Perbedaan sikap tampak jelas, karena sebagian massa yang mengatasnamakan ojol memilih pulang setelah dialog, sementara kelompok lain tetap melakukan penyerangan. Tindakan anarkis ini menambah kerusakan dan memperburuk situasi di lokasi.
Aparat akhirnya melakukan tindakan tegas dengan menyemprotkan gas air mata ke arah massa yang bertahan. Meski demikian, kericuhan baru benar-benar mereda setelah larut malam ketika situasi mulai terkendali.
Kericuhan di Kwitang ini menjadi perhatian besar karena menyangkut keselamatan publik serta menyoroti hubungan antara aparat dan masyarakat sipil. Kasus ini masih dalam penanganan pihak berwenang untuk mencari aktor di balik aksi pembakaran.
Kericuhan yang terjadi di Mako Brimob Kwitang berawal dari protes massa ojol atas tewasnya rekan mereka yang terlindas kendaraan taktis. Situasi memanas hingga berujung pembakaran delapan mobil sipil.
Dialog antara ojol dan Brimob sebenarnya sudah dilakukan, namun gagal meredakan massa yang emosional. Tindakan sebagian orang yang tidak beratribut ojol memperparah keadaan dengan melempari markas dan membalas gas air mata dengan kembang api.
Kerugian materi akibat pembakaran mobil menjadi catatan serius dalam peristiwa ini. Aparat tengah mendalami siapa aktor di balik tindakan anarkis tersebut.
Kejadian ini menjadi peringatan bahwa komunikasi dan penanganan insiden harus dilakukan lebih cepat agar tidak menimbulkan kericuhan. Peran masyarakat untuk tetap tenang dalam menuntut keadilan juga sangat dibutuhkan.
Diharapkan, penyelesaian kasus ini dapat dilakukan secara transparan agar kepercayaan publik terhadap aparat tetap terjaga. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v