Jakarta EKOIN.CO – Penyakit susah tidur atau insomnia bukan sekadar gangguan ringan yang bisa diabaikan. Kondisi ini berisiko menurunkan kualitas hidup secara menyeluruh, baik dari sisi fisik, mental, hingga emosional. Dalam beberapa kasus, insomnia bahkan dapat menjadi gejala awal dari penyakit yang lebih serius.
Insomnia ditandai dengan kesulitan untuk tertidur, sering terbangun di malam hari, atau bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali. Berdasarkan laporan dari Sleep Foundation, gangguan ini bisa bersifat jangka pendek (akut) atau berlangsung dalam jangka panjang (kronis) lebih dari tiga bulan.
Menurut American Academy of Sleep Medicine, sekitar 30% orang dewasa mengalami gejala insomnia, dan 10% di antaranya menderita insomnia kronis. Hal ini membuktikan bahwa gangguan tidur bukan kondisi yang jarang terjadi.
Penyakit susah tidur dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Stres, gangguan kecemasan, depresi, pola tidur yang buruk, serta kondisi medis tertentu seperti nyeri kronis atau gangguan pernapasan saat tidur bisa memicu gangguan ini.
Dokter spesialis saraf RSUP Persahabatan, dr. Muhammad Rizky, Sp.N, menjelaskan bahwa insomnia tak hanya mengganggu waktu istirahat, tetapi bisa berdampak pada sistem imun, metabolisme, hingga risiko penyakit jantung. “Insomnia kronis bisa memicu peningkatan tekanan darah dan inflamasi,” ujarnya.
Dampak Kesehatan dan Risiko Lanjutan
Kurang tidur secara terus-menerus berdampak negatif pada fungsi kognitif. Individu yang mengalami insomnia cenderung memiliki daya ingat yang menurun, sulit berkonsentrasi, dan lebih rentan mengalami gangguan suasana hati.
Dalam jangka panjang, insomnia dapat meningkatkan risiko gangguan kejiwaan seperti depresi berat dan gangguan bipolar. Selain itu, gangguan tidur juga berkorelasi dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan obesitas.
Penelitian dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa penderita insomnia kronis mengalami gangguan fungsi hormon seperti kortisol dan melatonin, yang mengatur siklus tidur dan bangun. Ketidakseimbangan ini memperburuk kualitas tidur secara umum.
Tak hanya itu, insomnia juga memengaruhi performa di tempat kerja dan produktivitas sehari-hari. Karyawan yang menderita insomnia lebih sering mengalami kesalahan dalam pekerjaan serta berisiko tinggi mengalami kecelakaan kerja.
Solusi dan Langkah Penanganan Insomnia
Mengatasi penyakit susah tidur memerlukan pendekatan menyeluruh. Terapi perilaku kognitif (CBT-I) merupakan metode utama yang direkomendasikan oleh pakar, tanpa perlu penggunaan obat tidur jangka panjang.
Selain itu, menjaga rutinitas tidur yang konsisten sangat penting. Hindari konsumsi kafein dan penggunaan gawai menjelang tidur, serta ciptakan suasana kamar yang nyaman dan gelap.
Penting juga untuk menghindari stres berlebih. Meditasi, relaksasi otot progresif, dan teknik pernapasan terbukti membantu merangsang hormon tidur secara alami. Olahraga ringan seperti yoga atau jalan kaki sore hari juga efektif.
Bila gejala insomnia berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya segera konsultasi ke dokter atau psikolog. Diagnosis dini akan membantu mencegah gangguan berkembang lebih parah.
Dilansir dari situs resmi Mayo Clinic, penggunaan obat tidur sebaiknya menjadi pilihan terakhir dan hanya digunakan sesuai petunjuk dokter, mengingat potensi ketergantungan yang tinggi.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Pencegahan menjadi langkah utama agar insomnia tidak berkembang menjadi penyakit serius. Masyarakat diimbau lebih peduli terhadap pola tidur yang sehat dan memperhatikan waktu tidur minimal tujuh hingga delapan jam per malam.
Kesadaran akan pentingnya tidur yang berkualitas harus ditanamkan sejak dini, terutama pada kelompok usia produktif dan lansia. Tidur bukan sekadar istirahat, tetapi bagian dari proses penyembuhan alami tubuh.
Dukungan keluarga dan lingkungan juga memegang peranan penting dalam mengurangi tekanan psikis yang sering menjadi akar insomnia. Komunikasi terbuka dan suasana rumah yang tenang sangat membantu.
Instansi kesehatan dan pendidikan perlu terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya manajemen stres dan kebiasaan tidur sehat. Dengan begitu, prevalensi insomnia bisa ditekan secara nasional.
, penyakit susah tidur bukanlah hal sepele dan perlu perhatian serius dari semua pihak. Setiap individu diharapkan melakukan deteksi dini terhadap gangguan tidur yang mereka alami. Kesehatan tidur yang optimal berperan besar dalam menunjang keseimbangan hidup.
Kebiasaan buruk seperti begadang, main gawai hingga larut, atau bekerja berlebihan perlu dikendalikan. Tidur yang cukup tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mencegah berbagai penyakit kronis.
Kebijakan pemerintah yang mendukung kesejahteraan mental dan fisik masyarakat, termasuk di dalamnya pola tidur, perlu digencarkan melalui berbagai program preventif.
Pemeriksaan medis berkala, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan tidur kronis, menjadi kunci dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan. Kualitas tidur adalah cerminan kualitas hidup.
Dengan perhatian yang lebih besar terhadap pentingnya tidur, masyarakat bisa menjalani kehidupan yang lebih sehat, seimbang, dan produktif. (*)