JAKARTA, EKOIN.CO – Pertumbuhan impor mobil listrik di Indonesia melonjak tajam dalam tiga tahun terakhir, terutama setelah pemerintah memberlakukan insentif bea masuk 0 persen. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), tren tersebut semakin kuat sejak 2023, seiring masuknya berbagai merek baru, khususnya dari produsen asal China.
[Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Lonjakan Impor Mobil Listrik Pasca Insentif
Pada 2023, total kendaraan utuh (completely built-up/CBU) yang masuk ke Indonesia mencapai 88.915 unit. Angka ini meningkat lebih dari 8.000 unit pada 2024. Sementara pada Januari–Juni 2025 saja, impor sudah menyentuh 61.806 unit. Proyeksi Gaikindo menyebutkan jumlah tersebut berpotensi menembus 120 ribu unit hingga akhir tahun.
Peningkatan pesat ini tidak lepas dari kebijakan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 10 Tahun 2024 yang memberikan pembebasan tarif bea masuk 0 persen bagi mobil listrik. Kebijakan tersebut berlaku hingga 31 Desember 2025, sehingga menarik minat pelaku industri otomotif untuk memperluas pasar.
Pada periode awal kebijakan, impor masih didominasi produsen Jepang seperti Toyota, Isuzu, Mitsubishi, Nissan, dan Lexus. Toyota bahkan menjadi pemain terbesar pada 2023 dengan pangsa 40,2 persen atau 35.787 unit.
Produsen China Mulai Kuasai Pasar
Namun, komposisi ini mulai berubah pada 2024. Produsen China seperti BYD, AION, BAIC, dan Haval masuk dengan agresif. BYD langsung melesat menjadi importir terbesar kedua setelah Toyota, dengan total 16.767 unit di tahun pertamanya. Setengah tahun pertama 2025 saja, BYD sudah mengimpor 13.560 unit.
AION juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan 2.705 unit pada semester pertama tahun ini. Hampir seluruh unit yang masuk merupakan mobil listrik, mencerminkan perubahan strategi pasar otomotif Indonesia yang mulai beralih ke kendaraan ramah lingkungan.
Sebelumnya, kehadiran merek China di Indonesia terbilang minim. Pada 2023, misalnya, Neta hanya mengimpor 260 unit (0,3 persen) dan MG sebanyak 937 unit (0,7 persen). Namun, insentif pajak mendorong peningkatan tajam dalam setahun terakhir.
Pemerintah berharap langkah ini dapat mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi dan mendukung target penurunan emisi karbon nasional. Namun, di sisi lain, lonjakan impor juga memunculkan kekhawatiran terhadap neraca perdagangan sektor otomotif.
Ekonom menilai, keberhasilan kebijakan insentif akan sangat bergantung pada kemampuan industri dalam negeri untuk ikut mengembangkan produksi mobil listrik secara lokal. Tanpa itu, pasar dalam negeri akan terus bergantung pada produk impor.
Pertumbuhan impor mobil listrik di Indonesia melonjak tajam sejak diberlakukannya insentif bea masuk 0 persen. Data Gaikindo menunjukkan lonjakan signifikan terutama dari produsen China seperti BYD dan AION, yang kini bersaing ketat dengan merek Jepang. Kebijakan ini membuka peluang percepatan adopsi kendaraan ramah lingkungan, namun juga menguji kesiapan industri otomotif lokal dalam menghadapi serbuan impor.
Pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat produksi lokal agar insentif tidak hanya menguntungkan produsen asing. Transfer teknologi, investasi pabrik, dan pengembangan ekosistem baterai menjadi kunci. Edukasi konsumen tentang keunggulan mobil listrik juga penting untuk menjaga keberlanjutan pasar. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v