PHNOM PENH – EKOIN.CO – Ketegangan memuncak di kawasan perbatasan antara Kamboja dan Thailand selama beberapa pekan terakhir, dan akhirnya meletus menjadi konflik bersenjata pada akhir pekan lalu. Di tengah pertempuran tersebut, mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, tampak mengambil alih kendali komando meskipun secara resmi ia tidak lagi menjabat sebagai kepala pemerintahan.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pemerintah Kamboja, disebutkan bahwa Hun Sen berperan aktif dalam merespons serangan militer dari Thailand, termasuk memimpin pergerakan pasukan di garis depan. Foto-foto yang tersebar menunjukkan Hun Sen duduk di ujung meja panjang bersama para perwira tinggi militer, meneliti peta dan peralatan komunikasi, dengan secangkir kopi di dekatnya.
Hun Sen, yang menyerahkan jabatan perdana menteri kepada putra sulungnya pada tahun 2023, kini menjabat sebagai ketua Senat. Meski tidak memiliki jabatan eksekutif, keterlibatannya dalam peristiwa ini menandakan bahwa ia masih memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan dan militer Kamboja.
Menurut tiga sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, keterlibatan Hun Sen dalam konflik selama lima hari ini sangat signifikan. Mereka menyebut kehadiran Hun Sen sebagai indikator pengaruh politik dan militer yang masih kuat di negara tersebut.
Pada hari Jumat lalu, konflik memuncak ketika artileri dari Kamboja menghantam wilayah sipil di provinsi perbatasan Thailand. Sebagai tanggapan, militer Thailand langsung membalas dengan serangan balasan yang menargetkan posisi-posisi militer Kamboja.
Pemerintah Kamboja secara resmi menyatakan bahwa serangan tersebut dipimpin oleh Hun Sen, yang disebut dengan gelar kehormatan Samdech Akka Moha Sena Padei Techo Hun Sen dalam pernyataan tersebut. Pemerintah juga menuduh Thailand telah memprovokasi serangan.
Hun Sen Pimpin Komando dan Tampil di Media Sosial
Beberapa jam setelah pertempuran pecah, Hun Sen, yang kini berusia 72 tahun, mengunggah sejumlah foto dan pernyataan di akun Facebook miliknya. Dalam unggahan tersebut, ia terlihat melakukan konferensi video dengan para pejabat dan tentara, serta mengenakan seragam militer lengkap.
Hun Sen memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan kepada publik dan menunjukkan kepemimpinannya dalam situasi genting ini. Foto-foto dan pernyataan yang ia unggah ditujukan untuk menggalang dukungan masyarakat dan menyampaikan kritik terhadap Thailand.
Seorang diplomat asing yang bertugas di Phnom Penh mengatakan kepada Reuters bahwa keterlibatan Hun Sen menunjukkan upaya menciptakan kesan bahwa ia masih menjadi tokoh sentral dalam pengambilan keputusan militer dan politik di Kamboja.
“Yang mengejutkan saya adalah sejauh mana dia berusaha menciptakan kesan bahwa dia yang bertanggung jawab—mengenakan seragam, terlihat mengarahkan pergerakan pasukan, dan melakukan intervensi di Facebook,” ujar diplomat tersebut.
Pemerintah Tegaskan Peran Hun Sen sebagai Komandan Logistik
Lim Menghour, pejabat Kamboja yang mengurusi kebijakan luar negeri, menjelaskan bahwa Hun Sen tidak memimpin operasi tempur secara langsung, tetapi bertindak sebagai komandan logistik utama. Ia membantu mengoordinasikan dukungan untuk pasukan yang berada di garis depan.
Menurut Lim Menghour, pengalaman militer Hun Sen yang panjang membuatnya mampu memberikan arahan logistik dan strategis dalam situasi krisis seperti ini. Hal itu menjadi alasan mengapa pemerintah memberikan peran strategis tersebut kepada mantan perdana menteri itu.
Konflik ini menjadi yang paling mematikan dalam lebih dari satu dekade terakhir antara Kamboja dan Thailand. Bentrokan bersenjata terjadi selama lima hari berturut-turut dan menyebabkan puluhan korban luka serta kerusakan fasilitas umum di kedua sisi perbatasan.
Belum ada informasi resmi mengenai jumlah korban jiwa, namun media lokal di kedua negara melaporkan adanya korban sipil dan militer akibat serangan artileri dan tembakan senjata ringan.
Sementara itu, Thailand telah meningkatkan kesiagaan di wilayah perbatasan dan meminta dukungan internasional untuk meredam eskalasi konflik. Pemerintah Thailand juga menyatakan akan menempuh jalur diplomatik untuk menyelesaikan ketegangan.
Kementerian Luar Negeri Thailand mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah menghubungi perwakilan diplomatik Kamboja untuk membahas gencatan senjata. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang dicapai antara kedua negara.
Di sisi lain, masyarakat internasional menyuarakan keprihatinan atas pecahnya kekerasan di kawasan perbatasan. Beberapa negara menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera berakhir. Pasukan dari kedua negara masih berjaga di garis perbatasan dan situasi dinilai masih rentan terhadap bentrokan lanjutan.
Sebagai keterlibatan Hun Sen dalam konflik ini menunjukkan dinamika kekuasaan yang unik di Kamboja, di mana mantan pemimpin tetap memegang kendali di saat krisis. Pengaruh politik dan militer Hun Sen tetap kuat meskipun tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri.
Pihak-pihak terkait diharapkan dapat segera meredakan ketegangan melalui jalur diplomatik. Langkah ini penting untuk mencegah korban lebih lanjut dan menjaga stabilitas kawasan.
Peran Hun Sen sebagai figur sentral dalam konflik perbatasan ini menyoroti tantangan transisi kekuasaan di Kamboja. Meski sudah berpindah tangan secara resmi, pengaruh personal dan politik sang mantan pemimpin masih sangat dominan.
Pemerintah Thailand dan Kamboja disarankan untuk membuka kembali komunikasi bilateral guna mencari solusi damai. Mediasi internasional juga bisa menjadi opsi agar konflik tidak meluas ke sektor lain.
Masyarakat kedua negara juga perlu dilindungi dari dampak konflik. Upaya pemulihan dan perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas utama dalam penanganan krisis ini. (*)