Jakarta, EKOIN.CO — Negara-negara Arab, Indonesia, dan sebagian besar negara berpenduduk Muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyerukan penangguhan keanggotaan Israel di PBB, sebagai reaksi tegas terhadap agresi dan kondisi kemanusiaan di Gaza. Kata boikot menjadi inti dari seruan untuk menyuarakan solidaritas dan keadilan dalam ranah internasional.
Islam menegaskan sikap kolektif terhadap keanggotaan Israel di PBB, berharap menciptakan tekanan global demi menghentikan eskalasi konflik dan penderitaan rakyat Palestina di Gaza.
Solidaritas OKI Memuncak: Turki Pimpin Dorongan Penangguhan
Turki, melalui Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, menyerukan agar negara-negara Islam memboikot partisipasi Israel dalam Sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang. Inisiatif ini didorong untuk menghentikan genosida yang terus berlangsung di Gaza, memastikan bahwa Israel tidak lolos dari akuntabilitas atas pelanggaran berat HAM.
Ri & Dunia Arab: Sahut Dorongan, Bentuk Tekanan Bersama
Indonesia bergabung dalam seruan bahwa keanggotaan Israel di PBB harus dikaji ulang. Desakan ini bukan sekadar simbolik—melainkan langkah strategis untuk memperkuat tekanan dalam berbagai forum internasional. Solidaritas ini juga mencerminkan bahwa boikot bukan sekadar kata, melainkan alat diplomasi yang dipertimbangkan secara serius.
Detal tambahan dari sumber-sumber lain terkait latar konflik dan respons global:
- Beberapa negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania menyebut tindakan Israel sebagai genosida, terutama di tengah krisis kelaparan di Gaza yang dikonfirmasi PBB. Mereka mendesak intervensi internasional untuk menghentikan bencana kemanusiaan ini
- Sejak 2024, Indonesia sudah aktif mendorong pencabutan keanggotaan Israel di PBB dan meminta isolasi diplomatik terhadap Tel Aviv sebagai respons atas genosida Palestina.
- Dalam forum internasional lainnya, seperti Deklarasi New York, Indonesia bersama 16 negara dan Uni Eropa mendukung berdirinya negara Palestina merdeka berdasarkan solusi dua negara.
Upaya mengeksklusi Israel dari keanggotaan PBB mencerminkan eskalasi diplomatik yang serius. Bila diterapkan, boikot ini dapat merombak legitimasi diplomatik Tel Aviv sekaligus memperlemah posisinya di forum global. Namun, implementasinya akan menghadapi tantangan besar, mengingat hak keanggotaan negara dalam PBB hanya bisa dicabut melalui Dewan Keamanan (dan kemungkinan veto oleh anggota tetap).
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v