Jakarta, EKOIN.CO – Tingginya biaya logistik menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI) menegaskan pentingnya pemanfaatan Pusat Logistik Berikat (PLB) sebagai strategi menekan biaya distribusi dan mendukung pengendalian inflasi nasional.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Kegiatan ini dikupas lebih mendalam dalam forum diskusi bertajuk Future-Ready Supply Chains: Leveraging Indonesia’s Bonded Facilities for Global Growth pada Kamis, 28 Agustus. Forum ini juga menjadi wujud dukungan dunia usaha terhadap target pemerintah dalam menurunkan biaya logistik nasional.
Saat ini, biaya logistik Indonesia dilaporkan mencapai 14,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, jika memasukkan komponen biaya logistik ekspor, totalnya menembus 23,08 persen PDB—jauh di atas standar ideal 8-10 persen yang dicapai negara maju. Posisi ini pun masih kalah kompetitif dibanding negara-negara Asia Tenggara.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menekankan bahwa tingginya biaya logistik disebabkan oleh faktor struktural, termasuk ketergantungan pada pelabuhan besar, lemahnya konektivitas antarwilayah, manajemen rantai pasok yang belum efisien, fasilitas penyimpanan modern yang minim, hingga kompleksitas birokrasi ekspor-impor.
“Kondisi ini tidak hanya menekan pelaku usaha, tetapi juga membebani harga barang dan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Shinta Kamdani, Kamis, 28 Agustus.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya PLB dan Kawasan Berikat sebagai solusi strategis yang terbukti memberikan dampak nyata bagi efisiensi industri nasional. Menurut Shinta, PLB kini berperan lebih dari sekadar gudang, menjadi bagian integral dari strategi logistik nasional.
“PLB dan Kawasan Berikat hadir sebagai game changer, bukan sekadar gudang penyimpanan, melainkan instrumen strategis yang mampu menekan biaya logistik, mengoptimalkan cashflow, memperkuat compliance, menghadirkan fleksibilitas dalam rantai pasok global, memberikan fasilitas kepabeanan dan perpajakan khusus, serta mendorong aktivitas manufaktur berorientasi ekspor,” jelas Shinta.
Peran PLB dalam Efisiensi dan Kepastian Usaha
Ketua Umum PPLBI, Utami Prasetiawati, menambahkan bahwa PLB terbukti menekan risiko, meningkatkan kepastian usaha, dan efisiensi operasional berbagai sektor, termasuk migas dan otomotif. “Bagi operasi migas, waktu adalah segalanya. PLB memberi kepastian dan mengurangi risiko keterlambatan yang dapat berdampak jutaan dolar,” ungkapnya.
Dalam sektor otomotif, PLB memungkinkan penempatan komponen impor secara strategis sehingga perusahaan dapat menyesuaikan pengeluaran sesuai kebutuhan produksi just-in-time. Hal ini menekan biaya sekaligus memberikan kepastian lebih besar dalam pengelolaan rantai pasok.
Menurut Utami, PLB merupakan jembatan strategis yang mendukung efisiensi logistik, kepatuhan, serta integrasi perdagangan global. Dengan kolaborasi pemerintah, industri, dan investor, PLB dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan industri saat ini sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam pertumbuhan ekonomi global.
Strategi Masa Depan dan Sinergi Industri
Penguatan PLB juga menjadi langkah strategis dalam mencapai target pengurangan biaya logistik nasional. Pemerintah diharapkan terus mendorong integrasi antara fasilitas logistik, kebijakan perpajakan, dan regulasi kepabeanan agar lebih fleksibel dan efisien.
Kolaborasi antara Apindo dan PPLBI diharapkan membuka peluang investasi baru di PLB, serta meningkatkan kapasitas penyimpanan modern yang mampu mendukung ekspor lebih cepat dan biaya lebih rendah.
Pemanfaatan PLB tidak hanya menurunkan biaya, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur berorientasi ekspor di kawasan Asia. Dengan demikian, industri nasional memiliki daya saing yang lebih tinggi dan kesiapan menghadapi pasar global.
Efisiensi logistik melalui PLB juga menjadi instrumen penting dalam menjaga harga barang agar tetap stabil, mendukung pengendalian inflasi, serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Dukungan nyata dunia usaha melalui forum dan implementasi PLB menjadi bukti bahwa sinergi antara sektor swasta dan pemerintah dapat mempercepat transformasi logistik nasional.
Penerapan strategi PLB yang terintegrasi diharapkan mendorong inovasi rantai pasok, mengurangi bottleneck distribusi, serta mempersiapkan Indonesia menjadi pemain utama di perdagangan global.
Dengan terus diperkuatnya fasilitas PLB, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi, menekan biaya logistik, dan memperkuat daya saing industri nasional secara berkelanjutan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v