Jakarta EKOIN.CO – Hubungan kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Swiss terus diperkuat melalui dialog tingkat tinggi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan penting dari Wakil Presiden Konfederasi Swiss sekaligus Federal Councilor Guy Parmelin yang didampingi oleh delegasi bisnis Swiss. Pertemuan strategis ini berlangsung di Jakarta, pada Rabu (1/10).
Inti dari pembahasan tersebut adalah tindak lanjut dan penguatan Implementasi IE CEPA (Indonesia–EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement). Selain itu, pertemuan ini mencakup diskusi mendalam mengenai penguatan kerja sama di sektor investasi, energi terbarukan, kesehatan, serta pengembangan sumber daya manusia.
Baca juga : Airlangga: Indonesia-EAEU FTA Akan Buka Peluang Ekonomi Baru
Implementasi IE CEPA sebagai Kata Kunci Fokus telah menjadi kerangka hukum yang krusial sejak berlaku pada November 2021. Kehadiran perjanjian ini dinilai sangat penting dalam memperkuat fondasi perdagangan dan investasi bilateral antara Indonesia dan negara-negara European Free Trade Association (EFTA), termasuk Swiss.
Pihak Swiss menyampaikan rasa puas atas perkembangan positif hubungan ekonomi yang terjalin dengan Indonesia. Data menunjukkan bahwa perdagangan bilateral telah menunjukkan tren yang meningkat.
Tidak hanya perdagangan, investasi Swiss di Indonesia juga mencatatkan angka impresif. Investasi tersebut telah melampaui USD2,1 miliar dan berhasil menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal. Angka-angka ini mempertegas Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan.
Namun demikian, Menko Airlangga menyoroti aspek yang perlu ditingkatkan. “Kerja sama IE CEPA telah mendorong diversifikasi ekspor Indonesia, namun pemanfaatannya perlu ditingkatkan melalui dukungan UMKM, sertifikasi, pertukaran informasi bisnis,” ujar Menko Airlangga.
Selain itu, Menko Airlangga juga menekankan pentingnya dialog intensif. Dialog ini harus fokus pada isu-isu strategis yang sensitif, seperti food safety (keamanan pangan), labelling (pelabelan), isu komoditas sawit, perikanan, dan teknologi hijau.

Proyek Prioritas dan Kolaborasi Sektor
Kedua pihak dalam pertemuan tersebut turut membahas hasil dari Joint Economic and Trade Commission (JETC) Indonesia-Swiss yang sebelumnya berlangsung di Jakarta pada 29 September 2025. Salah satu capaian penting JETC adalah penandatanganan Joint Statement di sektor mineral.
Pada kesempatan strategis tersebut, Pemerintah Indonesia secara aktif menyoroti berbagai peluang kerja sama di sektor-sektor prioritas masa depan. Peluang tersebut meliputi bidang energi terbarukan, pembangunan rumah sakit, serta uji klinis vaksin.
Selain itu, Indonesia mengundang kerja sama dalam pengembangan transportasi hijau, sejalan dengan komitmen iklim global. Tidak luput, kerja sama dalam pengembangan industri halal juga menjadi fokus pembahasan yang sangat diperhatikan.
Federal Councillor Parmelin dari Swiss menekankan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi bersama melalui pemanfaatan yang lebih efektif dari CEPA. Selain itu, ia menyoroti peningkatan keterlibatan sektor swasta dari kedua negara.
“Swiss sangat menghargai hubungan ekonomi dengan Indonesia yang terus berkembang,” ujar Federal Councillor Parmelin. Dia menilai bahwa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia menarik perhatian besar.
Parmelin menambahkan, banyak perusahaan Swiss, baik yang berskala besar maupun kecil, memandang Indonesia sebagai mitra yang sangat strategis di Asia. Kemitraan ini terutama ditekankan dalam sektor kesehatan, mesin, pendidikan vokasi, serta energi terbarukan.
“Kami percaya kerja sama ini dapat membuka lapangan kerja, mendukung inovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” tegas Federal Councillor Parmelin, menunjukkan optimisme terhadap masa depan hubungan bilateral.

Pendidikan Vokasi dan Inisiatif Global
Federal Councillor Parmelin juga secara khusus menyoroti peran penting perusahaan kecil dan menengah (UKM) Swiss. UKM tersebut memiliki spesialisasi yang mendalam dalam teknologi tinggi dan menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi.
UKM Swiss siap bekerja sama dengan mitra Indonesia, yang dipandang sebagai pasar yang sangat menjanjikan dan memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Hal ini membuka peluang transfer teknologi yang signifikan.
Pertemuan tersebut juga menyinggung keberlanjutan kerja sama yang telah berjalan, yaitu di sektor pendidikan vokasi. Kerja sama ini difasilitasi oleh SECO (State Secretariat for Economic Affairs) Swiss.
Selain itu, dibahas pula pengembangan rantai nilai kakao, yang merupakan komoditas unggulan Indonesia. Kerja sama di sektor transportasi, khususnya dengan PT INKA, dan program Young Professionals Exchange yang sedang dianalisis untuk diperluas, juga menjadi agenda penting.
Swiss juga menawarkan peluang bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam dua inisiatif global yang penting. Inisiatif tersebut adalah Agreement on Climate Change, Trade and Sustainability (ACCTS) dan Future of Investment and Trade (FIT) Partnership.
Kedua inisiatif ini merupakan platform global yang dirancang untuk mendukung sistem perdagangan yang berbasis pada aturan. Platform ini terbuka dengan keterlibatan luas dari berbagai negara. Indonesia dipandang memiliki kesempatan untuk turut serta dalam inisiatif tersebut, asalkan sesuai dengan kepentingan dan prioritas nasional.
Menko Airlangga menutup diskusi dengan penegasan kembali fondasi kemitraan yang kuat antara kedua negara. “Indonesia dan Swiss memiliki fondasi kemitraan yang kuat,” pungkas Menko Airlangga.
Ia meyakini bahwa dengan komitmen bersama, Indonesia dan Swiss dapat meningkatkan Implementasi IE CEPA. Peningkatan ini akan memperluas kerja sama di berbagai sektor prioritas dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Pertemuan ini didampingi oleh sejumlah pejabat, termasuk Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti, Duta Besar RI untuk Swiss I Gede Ngurah Swajaya, serta para deputi dan staf ahli dari berbagai Kementerian/Lembaga, bersama perwakilan KADIN Indonesia dan APINDO.
Implementasi IE CEPA telah terbukti menjadi kerangka kunci bagi peningkatan signifikan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Swiss, dengan investasi Swiss melebihi USD2,1 miliar. Pertemuan antara Menko Airlangga dan Wapres Swiss Guy Parmelin ini berhasil mengidentifikasi peluang baru di sektor strategis seperti energi terbarukan dan kesehatan, sambil menekankan perlunya dukungan UMKM dan penyelesaian isu food safety. Komitmen Swiss untuk melibatkan UKM berteknologi tinggi dan tawaran partisipasi dalam inisiatif perdagangan global menunjukkan potensi kemitraan yang jauh lebih luas dari sekadar perdagangan komoditas biasa.
Guna memaksimalkan Implementasi IE CEPA, Indonesia harus segera mempercepat proses sertifikasi dan harmonisasi standar untuk produk UMKM. Pemerintah perlu membentuk gugus tugas bersama dengan pihak Swiss untuk menindaklanjuti secara teknis proyek prioritas di bidang energi terbarukan dan kesehatan. Dialog intensif mengenai isu sawit dan perikanan harus terus dilakukan untuk mencari solusi yang saling menguntungkan. Evaluasi mendalam terhadap manfaat keikutsertaan dalam inisiatif global seperti ACCTS dan FIT Partnership perlu dilakukan untuk memastikan kesesuaian dengan kepentingan nasional.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





