Jakarta EKOIN.CO – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor keuangan syariah nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar perseroan untuk mendukung pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia pada 2029.
BSI saat ini sudah masuk jajaran Top 10 Sharia Global Bank kategori kapitalisasi pasar. Pencapaian tersebut memperlihatkan peran BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia yang siap mendorong pertumbuhan ekonomi syariah.
Baca juga : Wondr ITB Ultra Marathon 2025 Jakarta-Bandung Digelar
Wakil Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta, menyampaikan bahwa BSI akan terus mengambil peran dalam agenda besar ekonomi syariah nasional. “BSI akan fokus kepada tiga agenda besar. Yakni, penguatan Halal Value Chain, pengembangan keuangan syariah, serta literasi dan inklusi keuangan syariah,” ujarnya.
Bob menegaskan bahwa ketiga fokus utama tersebut akan menjadi kekuatan strategis. Melalui langkah itu, BSI ingin memastikan keberadaannya sebagai pilar penting dalam mendorong perkembangan ekonomi syariah yang berdaya saing global.
Strategi BSI Perkuat Ekonomi Syariah
Lebih lanjut, Bob menjelaskan bahwa BSI memiliki peran penting dalam menguatkan rantai nilai halal. Menurutnya, dukungan BSI mencakup seluruh segmen, baik sektor wholesale maupun UMKM, sehingga pertumbuhan ekosistem halal dapat merata.
“Ekonomi syariah diharapkan menjadi simbol kedaulatan ekonomi bangsa. Melalui pengembangan ekosistem halal, BSI hadir dengan produk dan layanan inovatif yang mendorong posisinya sebagai Top of Mind Bank syariah di Indonesia,” jelas Bob.
Sejalan dengan itu, Bank Indonesia juga telah menyiapkan enam inisiatif strategis nasional untuk mendukung transformasi keuangan syariah. Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan hal tersebut dalam Sarasehan Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah.
Inisiatif pertama adalah Gerbang Santri, program yang memperkuat kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan rantai nilai halal. Inisiatif kedua, JAWARA Ekspor, ditujukan untuk meningkatkan ekspor produk halal Indonesia dengan dukungan sistem informasi dan kerja sama internasional.
Perry juga menyebutkan inisiatif ketiga, GEMA Halal, yang mendorong percepatan sertifikasi halal. Selanjutnya, SAPA Syariah dan KANAL ZISWAF menjadi inisiatif keempat dan kelima yang memperkuat pembiayaan syariah serta pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Inisiatif keenam adalah LENTERA EMAS, yang diarahkan pada peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah. Menurut Perry, langkah ini penting agar pemahaman masyarakat mengenai ekonomi syariah semakin luas.
Dukungan Pemerintah untuk Target 2029
Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan bahwa sistem keuangan syariah yang kuat sangat diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia di tingkat global. Ia menyebutkan, pangsa aset keuangan syariah Indonesia saat ini sudah mencapai 51,42%.
Namun, angka tersebut menurut Sri Mulyani masih perlu ditingkatkan. Pemerintah mendorong pengembangan instrumen keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan seperti green sukuk dan cash waqf-linked sukuk.
Sri Mulyani menilai bahwa BSI memiliki kapasitas besar untuk menjadi motor utama dalam memperkuat sistem keuangan syariah nasional. “Kita membutuhkan sistem keuangan syariah yang tangguh agar bisa menjadi pusat global,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara regulator, perbankan, dan masyarakat menjadi kunci agar visi menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia dapat tercapai.
Di sisi lain, BSI terus memperluas akses masyarakat terhadap produk syariah melalui transformasi digital. Teknologi menjadi sarana utama dalam meningkatkan inklusi keuangan syariah di berbagai daerah.
Dengan strategi yang terarah, BSI berharap mampu meningkatkan skala bisnis syariah sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam ekspor produk halal. Hal ini juga diharapkan mampu membawa Indonesia sejajar dengan pusat ekonomi syariah global lainnya.
Masuknya BSI ke dalam Top 10 Sharia Global Bank membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar. Posisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa ekonomi syariah nasional telah mendapat pengakuan internasional.
Sinergi antara pemerintah, regulator, dan BSI akan menjadi penentu kesuksesan. Tanpa dukungan lintas sektor, target 2029 tidak akan mudah dicapai.
Pada akhirnya, BSI menegaskan kembali komitmennya dalam memperkuat rantai nilai halal, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan literasi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Kesimpulannya, BSI mendukung penuh visi pemerintah dalam membangun ekonomi syariah nasional. Kolaborasi yang erat dan strategi yang jelas menjadi modal utama untuk membawa Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
Peran aktif masyarakat sangat diperlukan dalam mengadopsi layanan syariah. Semakin banyak yang terlibat, semakin cepat transformasi ekonomi syariah bisa terwujud.
Dengan peluang besar di pasar global, Indonesia tidak hanya berkesempatan menjadi pusat keuangan syariah, tetapi juga dapat tampil sebagai pusat perdagangan produk halal.
Sinergi lintas sektor harus tetap diperkuat. BSI bersama regulator dan pemerintah akan menjadi ujung tombak dalam perjalanan menuju 2029.
Pada akhirnya, ekonomi syariah bukan hanya instrumen keuangan, melainkan juga cerminan kedaulatan ekonomi bangsa. Dengan dukungan penuh semua pihak, target Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia diyakini dapat terwujud. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v