• Latest
  • Trending
  • All
30 Wamen Rangkap Jabatan Sebagai Komisaris di Perusahaan BUMN

Ketika Pemerintah Salah Arah: Dari Peluang Emas Menjadi Ancaman Bangsa

7 November 2025
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman: KUHAP Baru Ini Sangat Revolusioner dan Pasal Keadaan Mendesak

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman: KUHAP Baru Ini Sangat Revolusioner dan Pasal Keadaan Mendesak

4 December 2025
Eks Jubir Febri Diansyah: KPK Sekarang Sudah Jauh Berbeda Sejak 2019

Eks Jubir Febri Diansyah: KPK Sekarang Sudah Jauh Berbeda Sejak 2019

28 November 2025
Soal Krisis Pasokan Gas Alam, DPR RI Desak Transformasi Industri Pupuk ke Arah Organik

Soal Krisis Pasokan Gas Alam, DPR RI Desak Transformasi Industri Pupuk ke Arah Organik

26 November 2025
Dugaan Korupsi Investasi Telkom ke GoTo Harus Diusut Tuntas Kejagung, PRIC: Publik Harus Kawal Transparansi BUMN

Dugaan Korupsi Investasi Telkom ke GoTo Harus Diusut Tuntas Kejagung, PRIC: Publik Harus Kawal Transparansi BUMN

25 November 2025
KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan di MPR, Formappi: Mencoreng Reputasi sebagai Lembaga Negara

Ini Alasan KPK Serahkan Berkas Penyidikan Korupsi Pengadaan Google Cloud ke Kejagung

24 November 2025
Sufmi Dasco Berpotensi Jadi Capres 2029, Pengamat: Posisi dan Manuver Politiknya Sangat Strategis

Sufmi Dasco Berpotensi Jadi Capres 2029, Pengamat: Posisi dan Manuver Politiknya Sangat Strategis

24 November 2025
Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

24 November 2025
Kejagung Sebut Tidak Ada Upaya Penggeledahan Rumah Jampidsus, Isu Dihembuskan Koruptor

Jampidsus Limpahkan Kasus Korupsi Petral ke KPK, Kejagung: Para Pihak Diproses Hukum

21 November 2025
Komjen Wahyu Widada Resmi Jabat Irwasum, Komjen Syahardiantono Gantikan Posisi Kabareskrim 

Semua Pihak Harus Hormati Putusan MK Terkait Larangan Anggota Polri Duduki Jabatan Sipil

20 November 2025
Kejari Jakpus Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Korupsi Kredit Fiktif Libatkan Manager Bank BUMN 

Kejari Jakpus Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Korupsi Kredit Fiktif Libatkan Manager Bank BUMN 

20 November 2025
Kejagung Sebut Tidak Ada Upaya Penggeledahan Rumah Jampidsus, Isu Dihembuskan Koruptor

Kejagung Kaji Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Korupsi di Kabupaten Pangandaran 

18 November 2025
Kejagung Respons Isu Polisi Akan Geledah Rumah Jampidsus, Meski Tidak Terkait Tindak Pidana 

Peroleh Alat Bukti Baru, Kejagung Lakukan Penyelidikan Baru Dugaan Korupsi Investasi PT Telkom ke Goto

17 November 2025
Friday, December 5, 2025
  • Login
EKOIN.CO
  • HOME
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • HUKUM
    • POLITIK
    • CEK FAKTA
    • BERITA VIDEO
    • BERITA FOTO
  • ENTERTAINT
    • DESTINASI
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • EBOOK
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAH RAGA
    • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • HOME
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • HUKUM
    • POLITIK
    • CEK FAKTA
    • BERITA VIDEO
    • BERITA FOTO
  • ENTERTAINT
    • DESTINASI
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • EBOOK
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAH RAGA
    • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
EKOIN.CO
No Result
View All Result
  • HOME
  • EKOBIS
  • PERISTIWA
  • POLKUM
  • ENTERTAINT
  • RAGAM
Home PERISTIWA OPINI

Ketika Pemerintah Salah Arah: Dari Peluang Emas Menjadi Ancaman Bangsa

Negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam mampu menegosiasikan proyek-proyek BRI agar menguntungkan ekonomi domestik mereka dimana ada pembatasan tenaga kerja asing, ada transfer teknologi wajib, dan ada keterlibatan industri lokal.

by Yudi Permana
7 November 2025, 20:04
in OPINI
Reading Time: 4 mins read
241
A A
0
30 Wamen Rangkap Jabatan Sebagai Komisaris di Perusahaan BUMN
478
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Pemerintah Salah Arah: Dari Peluang Emas Menjadi Ancaman Bangsa

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

 

RelatedPosts

Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

Waspadai Serangan Balik Mafia Migas dan Tambang Terhadap Jampidsus Kejagung

Dalang Lama di Panggung Baru

Penulis: Sri Radjasa, MBA (Pemerhati Intelijen)

 

Dalam dunia geopolitik modern, kekuatan ekonomi tak lagi ditentukan oleh senjata, melainkan oleh kemampuan sebuah negara memanfaatkan kerja sama global untuk memperkuat dirinya.

Tiongkok, lewat kebijakan One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI), memberi contoh bagaimana sebuah visi besar dapat menjadi alat membangun pengaruh global. Ironisnya, Indonesia yang seharusnya mampu menjadikan OBOR sebagai peluang emas justru tergelincir ke dalam jebakan yang diciptakannya sendiri, yakni jebakan dari pejabat-pejabat yang korup, berpikiran pendek, dan lebih sibuk memperkaya diri ketimbang melindungi rakyat.

BRI sebenarnya bukan ancaman jika dikelola dengan cerdas. Ia bisa menjadi wadah untuk membangun konektivitas, menumbuhkan industri nasional, dan mempercepat alih teknologi.

Negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam mampu menegosiasikan proyek-proyek BRI agar menguntungkan ekonomi domestik mereka dimana ada pembatasan tenaga kerja asing, ada transfer teknologi wajib, dan ada keterlibatan industri lokal.

Tetapi di Indonesia, kebijakan yang semestinya menjadi alat pembangunan justru dipelintir menjadi ladang rente. Para pejabat membuka pintu selebar-lebarnya untuk modal asing tanpa perencanaan yang matang, bahkan tanpa kajian dampak sosial dan ekonomi yang jelas.
Pemerintah kerap membanggakan diri dengan menyebut bahwa kerja sama dengan Tiongkok mencerminkan “kemitraan setara dan saling menguntungkan.”

Hal tersebut disampaikan Pengamat Intelijen, Sri Radjasa kepada redaksi ekoin.co dalam keterangan tertulisnya.

Namun data di lapangan menampik klaim itu. Investasi dari Tiongkok yang pada 2024 mencapai sekitar 8 miliar dolar AS tidak sepenuhnya menguntungkan Indonesia. Tenaga kerja asal Tiongkok yang mencapai lebih dari 100 ribu orang, sebagian besar bekerja di proyek-proyek infrastruktur menyingkirkan potensi pekerja lokal.

Sementara itu, industri yang dibangun lebih banyak dikendalikan oleh perusahaan asing, dengan sedikit sekali manfaat langsung yang dirasakan masyarakat.

Padahal dalam skema ideal, BRI bisa menjadi sarana bagi Indonesia untuk belajar dan bertransformasi. Kita bisa menuntut kewajiban transfer teknologi, membangun pabrik dengan kepemilikan bersama, dan memastikan tenaga kerja lokal menjadi bagian dari proses produksi modern. Namun peluang itu hilang karena satu penyakit kronis yaitu korupsi dan kerakusan pejabat publik.

Setiap proyek strategis nasional yang melibatkan modal besar berubah menjadi ajang pembagian kue kekuasaan. Proyek smelter, pelabuhan, hingga kereta cepat, sebagian besar dipenuhi manipulasi dan penyimpangan.

Pejabat yang semestinya menegosiasikan kepentingan rakyat malah menegosiasikan harga pengkhianatan. Dalam banyak kasus, pemerintah lebih sibuk menjaga hubungan baik dengan investor asing daripada memperjuangkan manfaat jangka panjang untuk masyarakat.

Hasilnya, rakyat hanya menjadi penonton, sementara elit politik dan pengusaha tertentu menikmati limpahan keuntungan.
Kita bisa belajar banyak dari Tiongkok, bukan untuk meniru hegemoninya, tapi untuk memahami bagaimana negara itu menempatkan rakyat sebagai poros kebijakannya.

Dalam tiga dekade terakhir, Tiongkok berhasil mengubah diri dari negara miskin menjadi kekuatan ekonomi dunia. Rahasianya sederhana, yakni pemerintahan yang disiplin, strategi pembangunan jangka panjang, dan keberanian menolak ketergantungan pada modal asing yang merugikan. Semua keputusan besar diambil dengan prinsip: harus menguntungkan rakyat Tiongkok, bukan elite penguasa.

Sementara di Indonesia, keputusan besar sering diambil berdasarkan siapa yang memberi keuntungan lebih cepat bagi pejabat dan kroninya. Regulasi dibuat longgar, izin dipercepat, dan pengawasan diabaikan. Kita menyebutnya investasi, padahal yang terjadi adalah penyerahan kedaulatan ekonomi secara perlahan.

Pemerintah gagal memahami bahwa kerja sama luar negeri harus berfungsi sebagai sarana memperkuat ekonomi rakyat, bukan memperlemah kemandirian nasional.

Proyek-proyek besar yang dibanggakan, seperti kereta cepat Jakarta-Bandung adalah cermin dari kesalahan arah itu. Semula dijanjikan tanpa beban APBN, proyek ini akhirnya justru menguras keuangan negara. Biaya membengkak, jadwal molor, dan manfaat bagi rakyat nyaris tak terasa. Yang untung hanyalah segelintir kelompok yang berada di lingkaran kekuasaan. Dalam politik pembangunan seperti ini, kata “kemitraan” kehilangan makna yang tersisa hanya ketergantungan.

Kegagalan terbesar pemerintah bukan karena bekerja sama dengan Tiongkok, melainkan karena tidak tahu bagaimana memanfaatkan kerja sama itu. Alih-alih membangun kapasitas nasional, pejabat kita justru memperlebar ruang intervensi asing dengan dalih percepatan pembangunan.

Rakyat yang seharusnya belajar teknologi baru, malah hanya melihat proyek-proyek raksasa berdiri tanpa akses. Anak-anak muda Indonesia yang berpendidikan tinggi tidak dipekerjakan, karena perusahaan lebih memilih tenaga asing dari negeri asal investor.

Kita sedang menghadapi bentuk baru penjajahan, bukan dengan senjata, melainkan dengan kontrak, perizinan, dan kelalaian moral pemerintah. Dan penjajahan jenis ini lebih berbahaya karena berjalan senyap, diselimuti retorika pertumbuhan ekonomi dan kerja sama strategis. Jika pemerintah terus menutup mata terhadap praktik ini, maka Indonesia akan menjadi pasar permanen, bukan mitra sejajar.

Tiongkok tidak sepenuhnya salah karena memperjuangkan kepentingannya, yang salah adalah pemerintah Indonesia yang gagal memperjuangkan kepentingan rakyatnya. Di balik setiap utang luar negeri, setiap proyek raksasa, dan setiap investasi yang diagung-agungkan, ada pertanyaan sederhana yang harus dijawab, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Jika jawabannya bukan rakyat Indonesia, maka pemerintah telah gagal total dalam menjalankan mandat konstitusionalnya.

Bangsa ini sebenarnya punya segala modal untuk maju. Kita punya sumber daya alam melimpah, tenaga kerja muda yang besar, dan posisi strategis di jalur perdagangan dunia. Tapi semua itu akan terus menjadi potensi yang tak pernah tumbuh jika dikelola oleh tangan yang kotor. Indonesia tidak kekurangan peluang, yang kurang hanyalah moral pemimpinnya.

Sudah saatnya pemerintah berhenti menjadikan investasi asing sebagai kambing hitam sekaligus tameng politik. Tanggung jawab utama ada pada pengambil kebijakan di dalam negeri.

Pemerintah harus memiliki visi ekonomi yang benar-benar berpihak pada rakyat, seperti yang dilakukan Tiongkok ketika membangun dirinya dari negara agraris menjadi kekuatan industri global. Rakyat yang kuat hanya lahir dari kebijakan yang melindungi mereka secara ekonomi, bukan dari slogan dan seremoni penandatanganan investasi.

Jika pemerintah benar-benar belajar dari Tiongkok, maka pelajarannya jelas dimana kemandirian dibangun dari disiplin, integritas, dan perencanaan yang berpihak pada rakyat.

Tetapi sejauh ini, yang kita tiru hanyalah kerakusan elite dan ketertutupan kekuasaan. Maka jangan salahkan Tiongkok jika akhirnya mereka diuntungkan, salahkan pemerintah Indonesia yang gagal menjaga rumahnya sendiri.

BRI bukan ancaman, pemerintah yang korupsi lah ancaman sebenarnya. Dan selama kepemimpinan kita masih menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa, Indonesia akan terus menjadi penonton di panggung yang dibangunnya sendiri. (*)

Tags: Ancaman BangsaKetika Pemerintah Salah Arahpeluang emasPemerhati Intelijenproyek kereta cepatSri Radjasa
Share191Tweet120
Yudi Permana

Yudi Permana

Related Posts

Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

by Yudi Permana
24 November 2025
0

Ekoin.co - Delapan puluh tahun sejak Proklamasi, republik ini terus bergerak di antara idealisme para pendiri bangsa dan realitas politik-ekonomi...

Pengusaha Minyak Riza Chalid Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi Minyak Pertamina

Waspadai Serangan Balik Mafia Migas dan Tambang Terhadap Jampidsus Kejagung

by Yudi Permana
17 November 2025
0

Jakarta, ekoin.co - Gelombang pemberantasan korupsi yang tengah digencarkan Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam hal ini Jaksa Agung Muda Tindak Pidana...

Dalang Lama di Panggung Baru

Dalang Lama di Panggung Baru

by Yudi Permana
15 November 2025
0

Jakarta, ekoin.co - Di republik ini, kekuasaan jarang benar-benar pergi. Ia hanya berganti wajah, mengganti jas, dan berpindah kursi. Setelah...

Tanah Air yang Direklamasi, Rel yang Menjauh dari Kedaulatan

Tanah Air yang Direklamasi, Rel yang Menjauh dari Kedaulatan

by Yudi Permana
11 November 2025
0

Jakarta, ekoin.co - Indonesia sedang berubah cepat. Laut direklamasi, tanah digali, rel dibentang. Semua atas nama pembangunan dan modernisasi. Namun...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Warga Isi BBM Subsidi Harus Tunjuk STNK

Warga Isi BBM Subsidi Harus Tunjuk STNK

21 September 2025
Muncul Masalah Baru Mobil Listrik Hyundai Setelah Di-recall

Muncul Masalah Baru Mobil Listrik Hyundai Setelah Di-recall

24 March 2025
“Sukses di Kampus dan Beyond: 10 Soft Skill yang Harus Dipersiapkan Sebelum Masuk Kuliah”

“Sukses di Kampus dan Beyond: 10 Soft Skill yang Harus Dipersiapkan Sebelum Masuk Kuliah”

24 March 2025
Adhel Laporkan Dedi Mulyadi ke Bareskrim Polisi

Adhel Laporkan Dedi Mulyadi ke Bareskrim Polisi

0
Penumpang Lompat ke Laut  KM Barcelona VA Rute Talaud–Manado Terbakar

Penumpang Lompat ke Laut KM Barcelona VA Rute Talaud–Manado Terbakar

0
Studi: Makanan Tradisional Tingkatkan Sistem Imun Jamur hingga Kelor Ampuh Cegah Penyakit Kronis

Studi: Makanan Tradisional Tingkatkan Sistem Imun Jamur hingga Kelor Ampuh Cegah Penyakit Kronis

0
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman: KUHAP Baru Ini Sangat Revolusioner dan Pasal Keadaan Mendesak

Ketua Komisi III DPR Habiburokhman: KUHAP Baru Ini Sangat Revolusioner dan Pasal Keadaan Mendesak

4 December 2025
Eks Jubir Febri Diansyah: KPK Sekarang Sudah Jauh Berbeda Sejak 2019

Eks Jubir Febri Diansyah: KPK Sekarang Sudah Jauh Berbeda Sejak 2019

28 November 2025
Soal Krisis Pasokan Gas Alam, DPR RI Desak Transformasi Industri Pupuk ke Arah Organik

Soal Krisis Pasokan Gas Alam, DPR RI Desak Transformasi Industri Pupuk ke Arah Organik

26 November 2025
EKOIN.CO

Copyright © 2015 EKOIN.CO Created by : Ibnu Gozali

Navigate Site

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HOME
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • PROPERTI
    • INDUSTRI
    • PERTANIAN
    • INFRASTRUKTUR
    • UMKM
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • BERITA FOTO
    • CEK FAKTA
  • ENTERTAINT
    • DESTINASI
    • HIBURAN
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • SELEBRITI
    • TEKNOLOGI
    • OLAH RAGA
  • PERISTIWA
    • BREAKING NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • LINGKUNGAN
    • ENERGI
  • RAGAM
    • TIPS
    • PROFIL
    • HIKMAH
    • EDUKASI
    • OPINI
    • SOSIAL
    • EBOOK
    • SENI & BUDAYA

Copyright © 2015 EKOIN.CO Created by : Ibnu Gozali